JAKARTA, tagline.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendorong seni dan budaya menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana membentuk karakter generasi muda. Momentum menuju 500 tahun Jakarta pada 2027 bahkan diminta diisi dengan karya yang mengangkat kembali sejarah ibu kota.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pementasan Sekolah Seni Yonif (SSY) bertajuk Drama Musikal Tari Putri Lopian “Bunga Belantara Dairi” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
Rano menilai keberanian tampil di panggung bukan satu-satunya hasil yang penting. Proses latihan, kedisiplinan, kerja sama, serta kemampuan anak-anak mengekspresikan diri melalui seni menjadi bagian penting dari pembentukan karakter.
“Hari ini kita menyaksikan bagaimana anak-anak tampil dengan penuh keberanian dan kreativitas melalui Drama Musikal Tari Putri Lopian ‘Bunga Belantara Dairi’. Bagi saya, yang paling penting bukan hanya hasil di atas panggung, tetapi proses mereka belajar, berlatih disiplin, bekerja sama, dan berani mengekspresikan diri melalui seni,” ujar Rano.
Menurut Rano, panggung seni dapat menjadi cara efektif memperkenalkan sejarah dan nilai kepahlawanan Nusantara kepada generasi muda. Kisah masa lalu tidak hanya disampaikan melalui buku, tetapi dapat dihidupkan melalui teater, tari, musik, dan pertunjukan modern.
Ia mengapresiasi SSY yang mengangkat kisah kepahlawanan daerah melalui pertunjukan modern. Salah satu tantangannya adalah membawa karakter sejarah dari masa berbeda agar dapat dipahami dan diperankan generasi muda.
“Tidak mudah bagi anak-anak memainkan tokoh sejarah yang berasal dari masa yang berbeda dengan mereka, seperti Sisingamangaraja. Sehingga, saya sangat bangga sanggar ini mengangkat kisah nasionalis tentang pahlawan daerah ke atas panggung teater modern,” ungkapnya.
Rano menilai pembinaan seni dan budaya memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi yang kreatif, berani, disiplin, dan memiliki kepedulian terhadap warisan budaya bangsa. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan Jakarta sebagai kota global.
Tak ingin berhenti pada satu pementasan, Rano memberikan tantangan kepada sutradara muda dan sanggar seni untuk memproduksi pertunjukan yang mengangkat sejarah Jakarta.
Karya tersebut diharapkan menjadi bagian dari rangkaian menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027. Sejumlah peristiwa penting dalam sejarah ibu kota dapat menjadi sumber cerita untuk diolah menjadi pertunjukan yang relevan bagi generasi sekarang.
“Saya memberikan tantangan kepada sutradara muda dan sanggar ini untuk membuat teater bertema 500 tahun Jakarta pada 2027 dengan menggali berbagai peristiwa sejarah penting, seperti peristiwa tahun 1740 (Geger Pecinan),” kata Rano.
Pemprov DKI Jakarta, lanjutnya, siap memberikan dukungan pendampingan dan pembiayaan. Pertunjukan tersebut juga direncanakan kembali digelar di panggung Taman Ismail Marzuki.
Pemprov DKI juga berencana memperluas ruang ekspresi dan kolaborasi bagi pelaku seni melalui berbagai program kebudayaan, termasuk Taman Ismail Marzuki dan Jakarta Penuh Warna.
Sejumlah fasilitas di kawasan TIM yang belum dimanfaatkan secara optimal akan didorong penggunaannya untuk mendukung aktivitas kreatif. Ruang latihan sanggar hingga fasilitas bioskop menjadi bagian dari pengembangan ekosistem seni pertunjukan dan perfilman Jakarta.
Langkah tersebut diarahkan agar ruang kebudayaan tidak hanya menjadi tempat pementasan, tetapi juga menjadi tempat belajar, berlatih, berkolaborasi, dan melahirkan karya baru.
Sementara itu, Kepala Sekolah Seni Yonif sekaligus Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi, mengatakan SSY berkomitmen membuka akses pendidikan seni bagi generasi muda.
Program tersebut mencakup seni tari, teater, dan vokal secara gratis. Selain keterampilan artistik, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai nilai kehidupan melalui karakter dan cerita yang dimainkan.
Dalam pementasan Putri Lopian Sinambela, misalnya, nilai keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta.
“Melalui kisah Putri Lopian Sinambela, kami menanamkan nilai keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan kepada lebih dari 60 anak yang tampil secara profesional di panggung teater sesungguhnya,” ujar Marulina.
SSY juga menegaskan komitmennya untuk terus mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan kebudayaan menyambut 500 tahun Jakarta.
Bagi Pemprov DKI, penguatan ekosistem seni bukan hanya soal menghadirkan pertunjukan. Lebih jauh, seni diposisikan sebagai ruang pendidikan karakter, pelestarian sejarah, sekaligus wadah bagi generasi muda untuk membangun kreativitas dan identitas budaya Jakarta.












