JAKARTA | tagline.id — Ketua Umum Lingkar Nusantara (Lisan), Farhan Dalimunthe, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai narasi yang mengaitkan pengusaha Hashim S. Djojohadikusumo dengan dugaan kepemilikan saham di PT Folago Global Nusantara Tbk (FolaPlay) tanpa bukti yang dapat diverifikasi.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul beredarnya narasi di media sosial dan sejumlah konten digital yang mengaitkan Hashim dengan dugaan konflik kepentingan atas penunjukan FolaPlay sebagai salah satu mitra layanan Over-The-Top (OTT) milik TVRI untuk menayangkan siaran 2026 FIFA World Cup.
Farhan menegaskan demokrasi menjamin kebebasan masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, menurutnya, kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab dengan mengedepankan fakta dan proses verifikasi.
“Demokrasi memberikan ruang bagi siapa pun untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Kritik jangan sampai menjadi tuduhan yang belum dapat dibuktikan,” kata Farhan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/6/2026).
Ia menilai publik perlu membedakan secara tegas antara kritik terhadap kebijakan publik dengan tuduhan yang ditujukan kepada individu. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari mekanisme pengawasan dalam sistem demokrasi, sedangkan dugaan kepemilikan perusahaan maupun konflik kepentingan harus didukung bukti yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelumnya, perusahaan investasi multisektor Arsari Group yang didirikan Hashim S. Djojohadikusumo telah menyampaikan klarifikasi resmi terkait narasi tersebut.
Melalui pernyataan resminya, Arsari Group menegaskan Hashim bukan pemegang saham, pemegang saham pengendali, beneficial owner, pengurus maupun penasihat FolaPlay. Perusahaan juga membantah tuduhan bahwa kerja sama tersebut menggunakan anggaran negara untuk memberikan keuntungan pribadi kepada Hashim.
“Kami membantah informasi tersebut karena tidak benar, tidak berdasar, dan tidak didukung oleh fakta yang dapat diverifikasi,” ujar VP Corporate Communications Arsari Group, Ariseno Ridhwan, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, Senin (29/6/2026).
Farhan mengatakan penyebaran informasi yang belum terverifikasi di ruang digital berpotensi membentuk persepsi publik melalui pengulangan narasi di berbagai platform media sosial.
Menurutnya, dalam ilmu komunikasi dikenal istilah illusory truth effect, yakni kondisi ketika informasi yang terus diulang berpotensi dianggap benar meskipun belum didukung fakta yang valid.
“Karena itu, masyarakat harus semakin kritis terhadap setiap informasi yang beredar,” ujarnya.
Ia menambahkan, narasi yang mengaitkan Hashim dengan FolaPlay sebelumnya muncul dalam salah satu episode Podcast Bocor Alus Politik Tempo dan kemudian direplikasi oleh sejumlah akun media sosial. Namun demikian, klaim tersebut telah dibantah secara resmi oleh Arsari Group.
Di akhir pernyataannya, Farhan mengajak masyarakat, pembuat konten, dan seluruh pengguna media sosial untuk mengedepankan etika komunikasi, budaya verifikasi, serta penyebaran informasi yang berbasis data dan fakta.
Menurutnya, tingginya jumlah penonton maupun viralitas sebuah konten tidak boleh dijadikan alasan mengabaikan akurasi informasi.
“Demokrasi hanya akan tumbuh sehat apabila informasi disebarkan secara bertanggung jawab, berdasarkan data dan fakta, bukan melalui narasi yang dibangun atas asumsi maupun menjadi sarana pembunuhan karakter yang dibungkus sebagai kebebasan berpendapat,” tutup Farhan.












